Alangkah nikmat dan kasihan, pohon ringin yang ada di samping rumahku memberikan kesejukan udara tatkala sang mentari dengan perkasanya memancarkan sinarnya. Pohon yang tumbuh dengan berangsur lenyapnya waktu selalu mendapatkan keseimbangan nikmat, ketika beringin haus rintik demi rintik air mulai turun memberikan pelepas dahaga baginya dan ketika membutuhkan pancaran sinar untuk makan sang suryapun dengan murah mengijinkannya.
Riuh manusia-manusia pengais rejeki selalu menemaninya, ada Mbah Darmo yang menunggu pelanggannya untuk memangkas para rambut mereka, Mbak Cempluk yang selalu berteduh untuk menjajakan jamu gendongnya serta juga ada Kang Bejjo yang selalu membagi recehannya hasil uang ngamen yang didapatnya seharian dengan rombongannya. Betapa bahagianya pohon ringin itu yang tau walau tidak benar-benar tahu rahasia dari para pengguna teduh daunnya. Selalu ada kesenangan yang ia dengar dan juga selalu ada kericuhan yang ia rasakan, tapi ringinpun mulai belajar dari latar belakang dari para pengais rejeki.
Setiap pagi para diktator mengirim petugasnya untuk selalu membersihkan di sekitar lingkup pohon ringin dengan assal-asalan, tanpa terlihat Mbah Darmo dan kawan-kawannya juga selalu membersihkan tanpa ada imbalannya, dan dengan senang hati dan berbangga ria ringin pun mengucapkan :: maturtengkyu ::, di lain waktu ketika paham introvet baru menghampiri, para diktator pun juga memangkas, membabat, dan membuat kerdil pohon beringin itu walaupun dengan alasan, aturan untuk membuat rapi bahkan kadang juga mengusir teman-teman ringin :: MbahDarmoCS ::, tapi tetap legowo dan memetik ilmu yang ringin katakan.
Betapa ironisnya nasib :: beringinrasakan ::, ia tumbuh dengan alam dan dirinya sendiri, selalu memberikan kesejukan bagi para penikmat, manfaat yang besar tapi tak terasakan, yang kuat hidup dan tumbuh di tengah lapangan alun-alun dengan panasnya terik, lebatnya rintik, dinginnya udara di bulan sabit, dan deruan badai angin tapi ia selalu diludahi, di anggap hal biasa dan sepele, tidak ada harganya, ditebangi rambutnya, bahkan dikencingi. Hanya diam yang sekarang ringin itu suarakan :: raisongomong :: sampai pada akhirnya akan lenyap, mati, punah dan tidak ada perasaan apapun seiring gemerlap suasana pedesaan yang semakin sunyi.







itulah salah satu gambaran tentang keiklasan, memberi banyak tanpa mengharap imbalan
benar tuch pak, yang sering kita sadari hanya yang sering terlihat aja, tapi hal kecil yang mungkin lebih mendasar kurang didengar, yang penting :: lakukanyangterbaik ::
beringin, angker, teduh, sejuk, banyak sampahnya, banyak ulatnya, banyak dhemitnya… salam beringin… salam golkar kali ya… hehehehe….
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
wah, kadang benar juga kali ya…., banyak ulat, banyak demit dan sampahnya. tapi ulat dan sampah kan bisa dijual mas, dan demitnya bisa dipelihara untuk cari uang he..he ::andnopoliticalimprove ::