Bagaikan di atas mistar timbangan, sekarang atau nanti pasti akan terjadi dimana kang bejjo sebagai lurah negeri dongeng harus mengambil keputusan yang dirasa berat dalam menentukannya. Harus bicara dengan hati telanjang dan melepaskan semua belenggu untuk menemukan sesuatu yang hilang :: hilang karena keadaan :: walau mimpi tidak dapat terjadi. Bagaimanapun juga kang bejjo harus kembali meski berat harus dilaluinya agar tak usah mimpi yang panjang ini menenggelamkan dalam kesunyiannya.
Beban pekerjaan yang dianggap kang bejjo akan selesai dengan berangsurnya waktu, membuat anggapan yang ada pada dirinya sebagai pohon gersang, tidak kuat dan tegas. Apabila dilihat dari perjalanannya sebagai lurah negeri dongeng kang bejjo bukan ragu-ragu dalam menentukan hitam atau putihnya keputusan, hanya saja kang bejjo mencoba mengambil jalan tengah yang terbaik untuk semua, keputusan yang terjadi hitam atau putih pun tetap dianggap kang bejjo sebagai hasil yang tidak ada masalah, semua demi mengayomi agar keadaan tetap berjalan dengan baik.
Ketika warga kampung dongeng seribu melakukan acara peringatan hari tradisinya yang setiap tahun dirayakannya, kampung dongeng seratus merasa tidak nyaman. Kebisingan dan keganduhan :: dianggapnya :: yang dirayakannya tersebut dirasa mengganggu, mengusik warga kampung seratus. Ketua RT kampung seratuspun melaporkan dan memarahi kang bejjo sebagai lurah negeri dongeng, sebagai ratu adil di negerinya kang bejjo tetap harus bijaksana dalam menaggapi itu semua. Ketika melakukan konfirmasi dengan ketua RT kampung seribu, warga disana juga menyangkal bahwa acara tersebut membuat keganduhan, pada acara itu kegiatan yang dilakukan hanya berdiam diri dan merenungi kesalahan setiap penduduk kampung seribu :: sebagai tradisi ::, sama sekali :: babarblas :: tidak ada alunan musik kenthongan ataupun kotoran yang berserakan dijalan, akan tetapi warga kampung seribu akan mengakhiri saja kegiatan tradisi nya tersebut seperti permintaan warga kampung seratus demi kenyamanan, kebaikan semua.
Sebagai lurah Kang Bejjo mulai trenyuh dengan kedewasaan warga kampung seribu, dan menyampaikan maaf dan terima kasih atas mengertinya sifat dan sikap warga kampung seratus. Kang bejjo harus mengalah dan memahami semua permasalahan yang dihadapinya, akan tetapi cepat atau lambat, sekarang atau besuk, lusa atau nanti kang bejjo tetap mengambil sikap, walaupun sikap tersebut dirasa berat serta akan membawa kebaikan atau bisa juga terjadi kehancuran bagi diri kang bejjo. Menunggu waktu yang tepat, mental yang kuat, dan hati yang mantap untuk mendapatkan kedamaian jiwa, dan harus kembali untuk menemukan sesuatu yang hilang.








