Arsip Bulanan: Oktober 2009

Harus Kembali

Kampung Bajo Pulau Medang Sumbawa

Bagaikan di atas mistar timbangan, sekarang atau nanti pasti akan terjadi dimana kang bejjo sebagai lurah negeri dongeng harus mengambil keputusan yang dirasa berat dalam menentukannya. Harus bicara dengan hati telanjang dan melepaskan semua belenggu untuk menemukan sesuatu yang hilang :: hilang karena keadaan :: walau mimpi tidak dapat terjadi. Bagaimanapun juga kang bejjo harus kembali meski berat harus dilaluinya agar tak usah mimpi yang panjang ini menenggelamkan dalam kesunyiannya.

Beban pekerjaan yang dianggap kang bejjo akan selesai dengan berangsurnya waktu, membuat anggapan yang ada pada dirinya sebagai pohon gersang, tidak kuat dan tegas. Apabila dilihat dari perjalanannya sebagai lurah negeri dongeng kang bejjo  bukan ragu-ragu dalam menentukan hitam atau putihnya keputusan, hanya saja kang bejjo mencoba mengambil jalan tengah yang terbaik untuk semua, keputusan yang terjadi hitam atau putih pun tetap dianggap kang bejjo sebagai hasil yang tidak ada masalah, semua demi mengayomi agar keadaan tetap berjalan dengan baik.

Ketika warga kampung dongeng seribu melakukan acara peringatan hari tradisinya yang setiap tahun dirayakannya, kampung dongeng seratus merasa tidak nyaman. Kebisingan dan keganduhan :: dianggapnya :: yang dirayakannya tersebut dirasa mengganggu, mengusik warga kampung seratus. Ketua RT kampung seratuspun melaporkan dan memarahi kang bejjo sebagai lurah negeri dongeng, sebagai ratu adil di negerinya kang bejjo tetap harus bijaksana dalam menaggapi itu semua. Ketika melakukan konfirmasi dengan ketua RT kampung seribu, warga disana juga menyangkal bahwa acara tersebut membuat keganduhan, pada acara itu kegiatan yang dilakukan hanya berdiam diri dan merenungi kesalahan setiap penduduk kampung seribu :: sebagai tradisi ::, sama sekali :: babarblas :: tidak ada alunan musik kenthongan ataupun kotoran yang berserakan dijalan, akan tetapi warga kampung seribu akan mengakhiri saja kegiatan tradisi nya tersebut seperti permintaan warga kampung seratus demi kenyamanan, kebaikan semua.

Sebagai lurah Kang Bejjo mulai trenyuh dengan kedewasaan warga kampung seribu, dan menyampaikan maaf dan terima kasih atas mengertinya sifat dan sikap warga kampung seratus. Kang bejjo harus mengalah dan memahami semua permasalahan yang dihadapinya, akan tetapi cepat atau lambat, sekarang atau besuk, lusa atau nanti kang bejjo tetap mengambil sikap, walaupun sikap tersebut dirasa berat serta akan membawa kebaikan atau bisa juga terjadi kehancuran   bagi diri kang bejjo. Menunggu waktu yang tepat, mental yang kuat, dan hati yang mantap untuk mendapatkan kedamaian jiwa, dan harus kembali untuk menemukan sesuatu yang hilang.

Pohonnya Beringin

Alangkah nikmat dan kasihan, pohon ringin yang ada di samping rumahku memberikan kesejukan udara tatkala sang mentari dengan perkasanya memancarkan sinarnya. Pohon yang tumbuh dengan berangsur lenyapnya waktu selalu mendapatkan keseimbangan nikmat, ketika beringin haus rintik demi rintik air mulai turun memberikan pelepas dahaga baginya dan ketika membutuhkan pancaran sinar untuk makan sang suryapun dengan murah mengijinkannya.

Riuh manusia-manusia pengais rejeki selalu menemaninya, ada Mbah Darmo yang menunggu pelanggannya untuk memangkas para rambut mereka, Mbak Cempluk yang selalu berteduh untuk menjajakan jamu gendongnya serta juga ada Kang Bejjo yang selalu membagi recehannya hasil uang ngamen yang didapatnya seharian dengan rombongannya. Betapa bahagianya pohon ringin itu yang tau walau tidak benar-benar tahu rahasia dari para pengguna teduh daunnya. Selalu ada kesenangan yang ia dengar dan juga selalu ada kericuhan yang ia rasakan, tapi ringinpun mulai belajar dari latar belakang dari para pengais rejeki.

Setiap pagi para diktator mengirim petugasnya untuk selalu membersihkan di sekitar lingkup pohon ringin dengan assal-asalan, tanpa terlihat Mbah Darmo dan kawan-kawannya juga selalu membersihkan tanpa ada imbalannya, dan dengan senang hati dan berbangga ria ringin pun mengucapkan :: maturtengkyu ::, di lain waktu ketika paham introvet baru menghampiri, para diktator pun juga memangkas, membabat, dan membuat kerdil pohon beringin itu walaupun dengan alasan, aturan untuk membuat rapi bahkan kadang juga mengusir teman-teman ringin :: MbahDarmoCS ::, tapi tetap legowo dan memetik ilmu yang ringin katakan.

Betapa ironisnya nasib :: beringinrasakan ::, ia tumbuh dengan alam dan dirinya sendiri, selalu memberikan kesejukan bagi para penikmat, manfaat yang besar tapi tak terasakan, yang kuat hidup dan tumbuh di tengah lapangan alun-alun dengan panasnya terik, lebatnya rintik, dinginnya udara di bulan sabit, dan deruan badai angin tapi ia selalu diludahi, di anggap hal biasa dan sepele, tidak ada harganya, ditebangi rambutnya, bahkan dikencingi. Hanya diam yang sekarang ringin itu suarakan :: raisongomong :: sampai pada akhirnya akan lenyap, mati, punah dan tidak ada perasaan apapun seiring gemerlap suasana pedesaan yang semakin sunyi.

Perjalanan

Tuntutan perkembangan tidak lepas dari sumbang asih para pemikir yang telah memberikan kontribusi yang bersifat tersembunyi. Kang Bejjo merupakan salah satu dari banyak orang yang yang terus mencoba memberikan sumbangasih  pemikiran yang dimilikinya :: menurutnya :: walau belum terlihat.

Dari kecil ternyata Kang Bejjo mempunyai cita-cita sebagai pemikir, ketika beranjak dewasa dia selalu melirik pada tempat-tempat yang mempunyai depan institut dan sesuatu yang berbau dengan science, dan akhirnya Kang Bejjo berhasil masuk pada perguruan tinggi pada jurusan yang sesuai dengan hobinya waktu kecil (berbau ke-Alam2-an).

Selama 4 tahun Kang Bejjo mencoba untuk menjadi yang terbaik tapi dia pun tetap susah, karena hawa “mbelingnya” yang tersisa di pikirannya, dan akhirnya Ia pun berhasil menyelesaikan studinya. Sebelum bekerja di tempatnya sekarang usut punya usut Kang Bejjo ternyata juga pernah mengabdi penjadi pesuruh pemikir dalam suatu kegiatan di salah  salah satu wadah pemikiran. Dan sesuai dengan namanya akhirnya Kang Bejjo juga kejatuhan bejo diterima di dua  tempat kerja yang sama-sama mempunyai wadah pemikir, tapi Kang Bejjo harus meninggalkan tempat kerjanyan dahulu dan menjalani di tempat kerja yang baru, :: baru dikenal maksude,

Waktu demi waktu telah terlewati, Kang Bejjo merasa tidak ada kemajuan pada dirinya tentang ilmu dan keahlian, hanya keluhan dalam hati yang Kang Bejjo selalu rasakan, sebenarnya ia sangat senang apabila dia bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi kalayak umum yang berasal dari keringatnya. Akan tetapi sekarang Kang Bejjo hanya suatu kumpulan kecil yang hanya tau sebagian yang sangat kecil dari apa yang menjadi bidang keahliannya.

Sedikit demi sedikit Kang Bejjo mulai melangkah, mencari ide-ide lama yang tersimpan untuk dieksposkan, dan selalu begitu. Sampai sekarangpun Kang Bejjo belum bisa menggali ide kreatifnya karena terbentur pada ruang dan waktu. Jiwa optimis yang selalu melekat dalam dirinya selalu mengajak berangan-angan untuk maju dua langkah untuk mengejar empat langkah di depannya, dan mencoba untuk bangkit dari tidurnya, serta memupus rasa yang dianggapnya salah. Hanya usaha, bejo, karakter, dan waktu yang akan mampu membawa Kang Bejjo melangkah lebih jauh […]